Mural di Sudut Kota Yogyakarta dan Cara Anak Muda Membaca Ruang

Saya pertama kali benar-benar memperhatikan mural di sudut Kota Yogyakarta justru bukan di jalan besar. Waktu itu motor harus pelan karena gangnya sempit, dua kendaraan saja sudah perlu saling mengalah. Di tembok samping gang, ada gambar yang warnanya mulai kusam, tapi masih cukup kuat buat menahan mata. Dari Makassar, saya terbiasa membaca kota lewat ruko, spanduk, dan jalan yang padat. Di Jogja, terutama di beberapa kampung kota, mural sering terasa seperti jeda kecil. Bukan cuma latar foto, melainkan tanda bahwa ada warga, seniman, mahasiswa, dan anak muda yang sedang ngobrol dengan tembok.
Mural Sebagai Catatan Kecil Kota
Jogja punya kebiasaan menarik dalam memperlakukan ruang. Tembok yang di banyak kota hanya menjadi pembatas, di sini bisa berubah jadi halaman catatan. Ada gambar wajah tokoh lokal, kalimat pendek tentang lingkungan, bentuk-bentuk surealis, sampai ilustrasi sederhana yang dekat dengan kehidupan harian.
Saya tidak sedang bilang semua mural di Yogyakarta punya pesan besar. Justru daya tariknya sering muncul dari hal yang kecil, agak spontan, dan tidak terlalu dibuat-buat. Di dekat jalan yang ramai, mural bisa menjadi penanda bahwa kawasan itu tidak sepenuhnya tunduk pada ritme kendaraan. Di gang permukiman, mural kadang terasa seperti sapaan warga kepada orang yang lewat.
Ada yang rapi, ada yang seadanya, ada juga yang seperti hasil kerja bareng setelah acara kampung. Kesan semacam ini membuat seni mural di sudut kota Yogyakarta berbeda dari sekadar dekorasi.

Mural membantu saya menangkap lapisan kota yang tidak selalu muncul di brosur wisata. Yogyakarta memang dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya. Rujukan umum tentang Kota Yogyakarta juga mencatat posisinya sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Tapi di luar label itu, mural menunjukkan versi kota yang lebih jalan kaki, lebih dekat, dan lebih sehari-hari.
Dari Tembok ke Linimasa
Sekarang, mural tidak cuma dilihat langsung. Ia ikut pindah ke media sosial. Anak muda memotret mural, mengunggahnya, memberi lokasi, lalu sudut yang tadinya biasa saja mendadak punya kehidupan kedua di layar ponsel. Saya pernah melihat orang berhenti sebntar hanya untuk mengambil foto di depan mural, lalu pergi tanpa membaca tulisan kecil di bagian bawahnya. Itu bukan hal yang perlu dimarahi. Begitulah cara banyak orang sekarang berjumpa dengan kota.
Tetap ada bedanya antara mural sebagai latar dan mural sebagai percakapan. Ketika gambar di tembok hanya dipakai sebagai pemanis unggahan, pesannya bisa hilang pelan-pelan. Namun saat orang mulai bertanya siapa yang membuatnya, kenapa gambar itu ada di sana, dan apa hubungannya dengan lingkungan sekitar, mural menjadi pintu masuk untuk membaca kota dengan lebih sabar.
Di Yogyakarta, kebiasaan ini terasa masuk akal karena kotanya akrab dengan mahasiswa, komunitas kreatif, dan ruang-ruang diskusi kecil. Bukan berarti semua mural lahir dari forum serius. Banyak juga yang muncul dari inisiatif santai, kerja kolektif, atau dorongan sederhana untuk membuat sudut kusam terasa lebih hidup. Yang penting, tembok tidak lagi diam sepenuhnya.
Bagian ini yang saya suka, karena tidak terlalu romantis. Mural tetap bisa pudar. Bisa tertutup cat baru. Bisa kalah oleh bangunan baru. Bisa juga diperdebatkan warga jika dianggap tidak cocok dengan lingkungan. Di situlah ia terasa hidup sebagai bagian dari kota, bukan benda pajangan yang steril Komparasi langsung ada di tumbuh kembang balita.
Sudut Kota yang Tidak Ingin Terlihat Seragam
Kota-kota Indonesia makin mudah terlihat mirip. Kedai kopi dengan bentuk serupa, papan nama yang mengikuti tren yang sama, sudut foto yang disusun agar rapi di layar. Yogyakarta tentu tidak kebal dari gejala itu. Tetapi mural di beberapa sudutnya masih memberi perlawanan kecil terhadap keseragaman visual Beberapa pertimbangan tambahan di tumbuh kembang praktis.
Mural membuat sebuah belokan punya ingatan. Orang bisa berkata, “gang yang ada gambar burung besar itu,” atau “tembok dekat warung yang ada tulisan tentang sungai.” Penanda seperti ini mungkin terdengar sederhana, tapi bagi pejalan kaki dan pengendara harian, ia membantu membangun hubungan dengan ruang. Kadang, hal kecil begini justru mengembaliin rasa kenal pada tempat yang tiap hari dilewati.

Saya membayangkan mural yang baik tidak harus rumit bangeet, tidak juga harus viral. Ia cukup punya alasan berada di sana. Kalau gambarnya bicara tentang kampung, biarkan ia terasa dekat dengan kampung. Kalau warnanya ramai, biarkan ia menghidupkan sudut yang sebelumnya muram. Kalau pesannya pendek, pastikan ia tidak cuma menempel sebagai slogan kosong.
Dari Makassar, saya melihat Yogyakarta sebagai kota yang pandai menyimpan cerita di celah sempit. Bukan hanya di museum, galeri, atau panggung seni, tetapi juga di tembok samping rumah, pagar tua, dan dinding dekat persimpangan kecil. Seni mural di sudut kota Yogyakarta mengingatkan saya bahwa ruang publik tidak selalu harus megah untuk terasa berarti. Kadang cukup satu gambar yang membuat orang berhenti, menoleh, lalu berjalan lagi dengan ingatan baru yang seperti mengembaliin wajah kota itu sendri.
Selengkapnya di: sumber resmi.
Baca juga: Tumbuh kembang pemula
Bahan bacaan: sumber resmi
